RSS

Euforia Sosial Media

17 Oct

Awal tahun 2000-an, dunia telekomunikasi dan informasi di Indonesia mengalami titik balik. Mengapa? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena masuknya internet di Indonesia, ditandai dengan menjamurnya warung-warung internet. Hal ini berbanding lurus dengan pengguna (user) telepon genggam (handphone) yang semakin banyak pula kita temukan. Tidak peduli siapapun orangnya dan apapun profesinya.

Kedua hal diatas, menyebabkan trafik penggunaan internet semakin tinggi. Kita bisa melihat dari data statistik yang cenderung naik dari tahun ke tahun. Berdasarkan data yang ada, Indonesia berada di urutan keempat setelah China, India, dan Jepang. Indonesia juga mengungguli Korea Selatan. Namun, untuk urusan penetrasi pengguna internet, Indonesia kalah jauh di bandingkan Korea Selatan. Penetrasi Indonesia baru sebesar 16.1%, sedangkan Korea Selatan sudah mencapai 80.9%. Atau dengan kata lain dari jumlah estimasi penduduk Indonesia di 2011 yang sebesar 245.613.043 baru sekitar 39.600.000 yang menjadi pengguna internet.

Dengan mudahnya mengakses internet via handphone, yang berarti akses informasi super cepat dan nyaris real-time serta dapat dilakukan dimana dan kapan saja, media penyebaran informasi mempunyai tren baru, yakni dari cetak ke digital. Digital berarti semua informasi yang diterima di-convert kedalam angka-angka bit digit berupa 0 dan 1.

Era Jejaring Sosial

Website jejaring sosial yang paling banyak dikunjungi oleh user di Indonesia adalah facebook dan twitter. Bahkan, keduanya menempati urutan yang cukup fantastis jika dibandingkan dengan negara lain di dunia. Bayangkan saja, Indonesia menempati urutan kedua dalam penggunaan layanan jejaring sosial yang dicetuskan oleh Mark Zuckerberg itu. Sementara, layanan 140 karakter yang disebut twit itu, Indonesia berada satu tingkat dibawahnya, yakni peringkat ketiga dunia setelah Amerika dan Brazil.

Facebook lebih dulu dikenal setahun sebelum twitter. Facebook masuk dan langsung mendapatkan perhatian oleh user di Indonesia karena lebih menarik disbanding dengan pendahulunya, friendster. Kita dapat menemukan teman-teman lama yang sudah ‘hilang’ karena lost contact. Sayangnya, saat ini kita menemukan terlalu banyak spam di facebook yang menyebabkan banyak postingan yang tidak jelas dan asal tag. Tag adalah salah fasilitas di facebook untuk mention nama orang yang membuat orang orang yang bersangkutan mendapatkan notifikasi dan mengetahui bahwa namanya disebut.

Untuk twitter sendiri, jumlah rata-rata twit (posting status) yang dihasilkan olrh user di Indonesia mencapai 1.293.131 twit dengan jumlah twit terbanyak pada akhir pekan. Sementara, jumlah total twit dalam 6 bulan bisa mencapai 234.056.721 twit!

Walaupun kalah dalam jumlah user, namun banyak masyarakat Indonesia khususnya para public figure lebih memilih twitter. Ini dikarenakan facebook tidak dapat menampung jumlah friends lebih dari 5000 ribu. Selain itu, tampilan yang sederhana dan mudahnya dalam mem-follow, serta melakukan kultwit juga menyebabkan situs microblogging ini tetap diminati.

Sebenarnya ada satu lagi sosial media yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Adalah blog, sosial media yang memungkinkan seorang user dapat menulis dan menyunting berita sekaligus. Lewat blog, seseorang dapat memberikan cerita atau apapun dengan template yang sangat banyak dan bervariasi. Itulah makanya blog juga disebut jurnal (diary) pribadi. Sayangnya, blog tidak lagi se-booming sejak masuknya facebook dan twitter.

Citizen Journalism

Ini adalah istilah baru yang banyak muncul di Indonesia pada 4 tahun terakhir. Jurnalisme warga (bahasa Inggris: citizen journalism) adalah kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis serta penyampaian informasi dan berita.

Lahirnya jurnalisme warga bukannya tanpa sebab. Hal ini tidak akan terjadi jika tidak ada faktor pendukungnya. Dan salah satu pendukung faktor pendukung yang paling penting dalam hal ini adalah maraknya handset yang beredar di masyarakat Indonesia. Dengan alat tersebut, seseorang dapat menyampaikan berita yang dapat dilihat semua orang.

Contoh yang yang paling baru adalah gempa bumi di Bali, kemarin, yang sempat juga menjadi trending topic. Kabar itu pertama kali muncul melalui sosial media. Seseorang melaporkan bahwa ada guncangan di Bali. Dengan banyaknya user yang me-retweet kabar tersebut, sesaat kemudian banyak berita-berita dari media online maupun lainnya meliput dan menjadikannya sebagai headline berita mereka.

Menurut Anggota Dewan Pers Uni Lubis mengatakan, pihaknya menilai sosial media bisa sebagai sumber berita namun tetap harus ada verifikasi.

Pada awal tahun 2011, pernah diadakan suatu survei yang membuktikan bahwa sosial media di dunia semakin dipercaya menjadi sumber berita. Survei tersebut dilakukan terhadap 500 wartawan dari 15 negara. Hasilnya, sekitar 43 persen wartawan menggunakan twitter sosial media sebagai sumber berita. Sementara seperempatnya menggunakan facebook sebagai sumber berita. Hal ini meningkat lebih dari dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

Sosial Media Sebagai Marketing Tool

Media untuk menjalankan bisnis di internet semakin marak. Dengan hanya bermodalkan gadget dan koneksi internet, seseorang dapat menjalankan bisnisnya dimana dan kapan saja. Akhir-akhir ini banyak sekali orang/badan usaha yang melakukan transaksi bisnisnya melalui sosial media. Kita ambil contoh: kaskus. Di website yang mengubah domainnya dari .com menjadi .us ini, kita dapat melihat geliat masyarakat dalam melancarkan aksi bisnisnya. Di FJB (Forum Jual Beli) Kaskus, kita dapat menawarkan maupun mencari produk yang kita inginkan.

Seperti halnya kaskus, twitter dan facebook juga menjadi arena berbisnis bagi para pebisnis. Salah satu produk yang namanya melambung berkat promosi melalui twitter adalah keripik pedas Maicih. Sementar, di facebook, kita dapat melihat iklan toko elektronik yang menawarkan paket harga yang menggiurkan. Hal ini menunjukkan bahwa peran sosial media sangatlah membantu.

Kontrol Sosial Media

Semua media online, mempunyai satu kelemahan: akurasi kebenaran sebuah informasi. Sebuah informasi yang tercantum di media online sangatlah bergantung kepada penulis informasinya. Banyak sekali hal yang kontradiktif dengan kenyataannya.

Contohnya seseorang menulis status di sosial media tentang pengalamannya pergi ke suatu tempat. Bisa saja orang tersebut hanya copas alias copy-paste dari blog orang lain kan? Disini sangat diperlukan kontrol bagi sosial media. Sebuah berita online hendaknya melakukan verifikasi terlebih dahulu jika ingin mengutip salah satu berita dari jurnalis warga tadi, sebelum mengangkatnya menjadi sebuah berita.

Lalu siapa yang berhak mengontrol sosial media? Jawabannya adalah bukan orang lain, apalagi pemerintah. Masing-masing pribadi dari kitalah yang berhak dan sepatutnya mengontrol sosial media kita sendiri. Berikut ada beberapa tips yang bisa diterapkan agar konten informasi yang anda berikan dapat bermanfaat:

  1. Berlakulah jujur. Dengan kejujuran, anda dapat mempertanggungjawabkan dan dimintai keterangan mengenai informasi yang anda sebarkan.
  2. Verifikasi setiap informasi yang akan kita sebar ulang. Jangan asal copas dari sumber antah berantah.
  3. Pastikan siapa target pembaca anda. Hal ini penting untuk menata kalimat dan tata bahasa informasi anda.

Sekali lagi, sosial media sangatlah membantu kita. Mari budayakan bersosial media yang sehat dan bertanggung jawab atas konten yang kita sampaikan!

 
Leave a comment

Posted by on 17 October, 2011 in Internet, Opini

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: