RSS

Jangan Salahkan Pelatih!

11 Oct

Lagi, timnas Indonesia menelan kekalahan beruntun dalam babak kualifikasi Pra-Piala Dunia 2014. Kali ini, timnas Qatar yang berhasil mempermalukan Indonesia didepan pendukungnya (Indonesia) sendiri dengan skor tipis 2-3.

Pertandingan yang digelar di stadion Gelora Bung Karno itu hanya ditonton oleh kurang dari sepertiga kapasitas stadion. Tidak heran, 2 kekalahan beruntun sebelumnya menyebabkan kurangnya animo masyarakat dalam menonton secara langsung di stadion.

Sebenarnya, permainan timnas Indonesia cukup bagus di babak pertama. Walaupun selalu ketinggalan, para pemain timnas tidak gentar dan berusaha menyamakan kedudukan. Terbukti, 2 gol penyama kedudukan yang disarangkan el-Loco Gonzalez, mampu membangkitkan semangat para pemain timnas.

Sayangnya, di babak kedua, pemain timnas tidak dapat memanfaatkan peluang yang didapat. Justru sebaliknya, mereka malah kecolongan dengan lahirnya gol ketiga Qatar. Sampai peluit panjang dibunyikan, timnas Indonesia tidak mampu mengejar defisit golnya. So, hasil akhir tetap bertahan, 2-3 untuk Qatar.

Usai pertandingan, beragam pendapat para suporter dalam menyikapi hasil akhir pertandingan tersebut. Paling tidak yang saya jumpai di status twitter mereka. Ada yang menanggapinya dengan enteng, bahwa timnas sudah biasa kalah. Jadi, santai saja. Ada juga yang menganggap bahwa sebenarnya timnas Indonesia itu menang dengan 2 gol, namun kebobolan 3 gol. Podo ae artine.

Dan, apa pendapat yang paling ramai dibicarakan? Sudah bisa ketebak, pendapat paling banyak adalah: pecat pelatih! Mereka bukannya tidak beralasan. Mereka menganggap kegagalan timnas dalam meraih kemenangan adalah mutlak karena ketidakbecusan sang pelatih. Dan inilah saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada bung Wim, kata salah satu suporter.

Hemat saya, kualitas pemain timnas Indonesia memang sudah terlihat ‘begitu-begitu’ saja. Bukan bermaksud merendahkan, tapi saya melihat bahwa para pemain timnas kurang memperlihatkan ciri khas permainan timnas sesungguhnya. Disini, peran pelatih dibutuhkan untuk membangun itu semua. Namun, pekerjaan ini tidak selesai dalam hitungan bulan.

Jika mental kita mental ‘kalah, ganti!,’ maka timnas kita tidak akan berkembang. Oleh karena itu, berilah kesempatan pelatih beberapa bulan kedepan. Jika masih belum ada perubahan, baru pecat.

Semoga, kita dapat menerima kemenangan dan atau kekalahan dengan lapang dada. Kerusuhan tidak akan mengubah kekalahan menjadi kemenangan. Ingat itu! Maju terus, Indonesiaku!

*Saya bukan pendukung PSSI, namun pendukung timnas Indonesia

 
Leave a comment

Posted by on 11 October, 2011 in Lain-lain, Opini

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: