RSS

Pecel Lele dan Satpol PP

26 Aug

image

image

image

Kali ini, saya mengambil judul mengenai sesuatu yang ‘bertentangan’. Lantas, adakah kaitan antara keduanya? Bisa dikatakan tidak. Namun, dapat juga dikatakan ada hubungannya.

Kemarin lusa (malam hari, 25/8) saya diajak kakak saya ke suatu tempat, lebih tepatnya rumah makan di bilangan Ciputat. Saya langsung menyetujuinya. Ternyata, tempat yang kami tuju adalah rumah makan ‘pecel lele’. Saya pernah mendengar nama tempat ini sebelumnya. Selain dari berita-berita, teman-teman saya juga banyak yang membicarakan tentang rumah makan tersebut. Emang sehebat apa rumah makan itu?

Namanya Pecel Lele LELA! *bukan promosi, hanya sedikit bercerita (curcol) kesan makan di tempat tersebut.

Dari namanya sudah membuat orang penasaaran. Menurut berita, LELA adalah kependekan dari Lebih Laris, sebuah doa dari sang pencetus ide yang sekarang sudah sukses memiliki lebih dari 30 cabang. Bagaimana tidak, manajemen yang diterapkan sangatlah ‘memuaskan’ konsumen. Seperti kita ketahui, pecel lele identik dengan lapak ‘buatan’ di pinggir jalan, tempatnya kotor, panas, pelayanan seadanya, dsb. Namun, kesan itu lenyap sesaat ketika saya memasuki rumah LELA ini.

Mereka sapa konsumen dengan “Selamat Pagi”, kapanpun waktunya. Filosofinya adalah mereka selalu semangat layaknya semangat pagi, tidak peduli siang, sore, ataupun malam. Tempatnya bersih, terdapat toilet dan tempat ibadah karena berada di ruko. Pelayanannya juga seperti di restoran. Pokoknya gitu deh. Gambar-gambar tentang menu dan informasi tentang makanan laut (lele juga makanan laut kan?) menghiasi dinding ruangan. Dan yang tidak kalah menariknya adalah harganya sangat terjangkau!😀 Yang jelas, kesan kotor dan panas hilang semua dan berubah menjadi kesan elegan serta cocok untuk tempat kongkow bareng teman-teman.

Saya kira, manajemen seperti itu bukanlah yang pertama. Namun, dengan cara menerapkannya di bisnis yang kita jalankan, maka akan tercipta image yang berbeda, pecel lele sekalipun, yaitu dengan keramahan dan kebersihan.

Pagi dini harinya (26/8), ketika perjalanan ke masjid Fathullah UIN Jakarta, saya melihat anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sedang menurunkan spanduk ‘liar’ di Jalan WR Supratman Ciputat Timur. Saya pelankan laju motor saya sambil mengamati apa yang sedang dilakukan mereka. Saya terkejut karena, mobil box yang mereka tumpangi penuh dengan spanduk-spanduk, termasuk spanduk (mungkin papan reklame juga) yang barusan diturunkan. Spanduk-spanduk itu adalah spanduk yang dipasang tanpa izin dan terkadang merusak pemandangan (seakan di pegunungan pake kata pemandangan :D).

Kali ini, saya setuju dengan penertiban yang dilakukan mereka: talk less do more! Pak, nanti lagi, jika ingin menertibkan pedagang, jangan menggunakan kekerasan. Musyawarahkan dahulu jalan keluarnya. Pedagang kan juga butuh kerja, yaitu dengan berdagang. Mari budayakan tertib di negeri tercinta

.

 
Leave a comment

Posted by on 26 August, 2011 in Lain-lain

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: